Usia 30-an sering dianggap sebagai masa ketika tubuh masih berada dalam kondisi prima. Aktivitas padat, pekerjaan, olahraga, hingga kebiasaan begadang mungkin terasa tidak menjadi masalah selama tubuh masih mampu beraktivitas seperti biasa. Namun, anggapan bahwa serangan jantung hanya terjadi pada usia lanjut perlu diluruskan.
Kementerian Kesehatan RI menyoroti bahwa serangan jantung dapat terjadi pada usia muda. Bahkan, kelompok usia 25–34 tahun tercatat memiliki prevalensi penyakit jantung sebesar 0,8 persen berdasarkan data Riskesdas 2018 yang dikutip dalam materi Kemenkes mengenai serangan jantung pada usia muda. Kondisi ini menunjukkan bahwa usia muda bukan alasan untuk mengabaikan kesehatan jantung. Memahami ciri-ciri serangan jantung di usia 30-an menjadi langkah penting. Bukan untuk membuat khawatir, melainkan agar tanda bahaya dapat dikenali lebih cepat dan pertolongan medis tidak terlambat.
Ciri-Ciri Serangan Jantung di Usia 30-an yang Perlu Dikenali
Serangan jantung terjadi ketika aliran darah menuju otot jantung berkurang atau terhenti sehingga jaringan jantung kekurangan oksigen. Salah satu penyebab yang paling umum adalah penyakit jantung koroner, ketika penumpukan plak pada pembuluh darah koroner dapat menyebabkan penyempitan hingga terbentuknya sumbatan. Ciri-ciri serangan jantung di usia 30-an pada dasarnya dapat menyerupai gejala pada kelompok usia lainnya. Beberapa tanda yang perlu diperhatikan antara lain:
1. Nyeri atau Rasa Tidak Nyaman di Dada
Rasa tidak nyaman di bagian tengah atau sisi kiri dada merupakan salah satu tanda yang paling umum. Keluhan dapat terasa seperti ditekan, diremas, penuh, berat, atau terjepit. Rasa tidak nyaman tersebut dapat berlangsung selama beberapa menit, menghilang kemudian muncul kembali. Keluhan di dada tidak selalu terasa sebagai nyeri hebat. Karena itu, rasa tertekan atau tidak nyaman yang muncul secara tiba-tiba, terutama bila disertai gejala lain, sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai kelelahan biasa.
2. Nyeri Menjalar Ke Bagian Tubuh Lain
Tanda serangan jantung tidak selalu berhenti di area dada. Rasa nyeri atau tidak nyaman dapat menjalar ke salah satu atau kedua lengan, bahu, leher, rahang, punggung, atau bagian tubuh bagian atas lainnya. Pada usia 30-an, keluhan seperti pegal pada bahu atau punggung bisa saja dianggap sebagai dampak bekerja terlalu lama di depan komputer. Namun, bila keluhan tersebut muncul bersamaan dengan rasa tidak nyaman di dada atau sesak napas, diperlukan kewaspadaan lebih tinggi.
3. Sesak Napas
Sesak napas dapat menjadi tanda serangan jantung. Gejala ini dapat muncul bersamaan dengan rasa tidak nyaman di dada, tetapi dalam beberapa kondisi juga dapat muncul sebelum keluhan dada terasa. Sesak yang muncul secara tiba-tiba tanpa penyebab yang jelas, terutama ketika disertai keringat dingin, pusing, mual, atau rasa tertekan di dada, tidak sebaiknya dianggap sekadar akibat kurang tidur atau kelelahan setelah beraktivitas.
4. Keringat Dingin dan Tubuh Terasa Lemas
Keringat dingin, tubuh terasa lemah, pusing, atau seperti akan pingsan termasuk tanda yang dapat menyertai serangan jantung. WHO mencatat gejala tersebut sebagai bagian dari tanda yang perlu dikenali ketika serangan jantung terjadi. Hal ini menjadi penting terutama ketika keluhan muncul secara bersamaan. Kombinasi beberapa gejala lebih perlu diperhatikan dibandingkan hanya satu keluhan yang berdiri sendiri.
5. Mual atau Muntah
Mual dan muntah juga dapat muncul ketika seseorang mengalami serangan jantung. CDC menyebutkan bahwa mual atau muntah, serta kelelahan yang tidak biasa, dapat menjadi gejala lain selain keluhan dada. Karena gejala tersebut sering dikaitkan dengan gangguan pencernaan, sebagian orang mungkin terlambat menyadari adanya masalah pada jantung. Inilah salah satu alasan pentingnya mengenali gejala secara menyeluruh.
6. Kelelahan yang Tidak Biasa
Tubuh yang tiba-tiba terasa sangat lelah tanpa alasan yang jelas juga perlu diperhatikan. CDC mencantumkan kelelahan yang tidak biasa sebagai salah satu gejala yang dapat menyertai serangan jantung. Kelelahan setelah pekerjaan panjang tentu dapat terjadi secara normal. Namun, kelelahan yang terasa tidak biasa, terutama bila muncul bersama sesak napas, pusing, mual, keringat dingin, atau ketidaknyamanan di dada, perlu mendapatkan perhatian medis.
Mengapa Serangan Jantung Bisa Terjadi di Usia 30-an?
Penyakit jantung tidak selalu muncul secara tiba-tiba. Proses yang memengaruhi pembuluh darah dapat berkembang secara perlahan tanpa menimbulkan gejala yang jelas. WHO menjelaskan bahwa faktor seperti penggunaan tembakau, pola makan tidak sehat, kurang aktivitas fisik, tekanan darah tinggi, kadar gula darah tinggi, kadar lemak darah tinggi, serta kelebihan berat badan atau obesitas dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular. Kemenkes juga menempatkan merokok, pola makan tidak seimbang, hipertensi, obesitas, diabetes melitus, dan kurang aktivitas fisik sebagai faktor yang berkontribusi terhadap penyakit jantung koroner. Menariknya, tubuh yang terlihat bugar tidak selalu berarti bebas dari faktor risiko. Tekanan darah tinggi dan kolesterol tinggi, misalnya, dapat berlangsung tanpa gejala yang mudah dikenali. CDC menegaskan bahwa tekanan darah tinggi sering kali tidak menimbulkan gejala sehingga pengukuran tekanan darah diperlukan untuk mengetahui kondisinya.
Faktor Risiko Serangan Jantung yang Sering Diabaikan di Usia Muda
Ada sejumlah faktor yang mungkin terasa dekat dengan rutinitas masyarakat usia produktif. Beberapa di antaranya justru sering dianggap sebagai bagian dari gaya hidup biasa.
1. Merokok
Merokok merupakan salah satu faktor risiko utama penyakit jantung. Kandungan dalam rokok dapat merusak pembuluh darah dan meningkatkan risiko penyakit jantung. Berhenti merokok dapat membantu menurunkan risiko tersebut.
2. Kurang Bergerak
Duduk dalam waktu lama, jarang berolahraga, dan lebih banyak menghabiskan waktu dengan aktivitas sedentari dapat membuat aktivitas fisik harian tidak mencukupi. WHO merekomendasikan orang dewasa melakukan sedikitnya 150 menit aktivitas fisik intensitas sedang per minggu atau 75 menit aktivitas intensitas berat.
3. Pola Makan Tidak Seimbang
Asupan tinggi lemak jenuh, lemak trans, garam, serta makanan yang minim serat dapat berkontribusi terhadap berbagai faktor risiko penyakit jantung. CDC merekomendasikan konsumsi lebih banyak buah dan sayuran, makanan kaya serat, serta membatasi makanan tinggi lemak jenuh, lemak trans, dan natrium.
4. Tekanan Darah Dan Kolesterol yang Tidak Terpantau
Tekanan darah tinggi dan kolesterol tinggi dapat meningkatkan risiko penyakit jantung. Masalahnya, keduanya dapat berlangsung tanpa keluhan yang spesifik. Pemeriksaan kesehatan menjadi cara penting untuk mengetahui kondisi tersebut lebih awal.
5. Riwayat Keluarga
Usia dan riwayat keluarga termasuk faktor yang tidak dapat diubah. CDC menyebutkan bahwa riwayat keluarga dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, sehingga informasi mengenai riwayat kesehatan keluarga layak menjadi bagian dari perhatian ketika melakukan pemeriksaan kesehatan.
Jantung Sehat Tidak Menunggu Usia Tua, Mulai Peduli dari Sekarang
Ciri-ciri serangan jantung di usia 30-an dapat berupa rasa tidak nyaman di dada, nyeri yang menjalar, sesak napas, keringat dingin, pusing, mual, muntah, hingga kelelahan yang tidak biasa. Gejala tersebut tidak boleh diabaikan, terlebih jika muncul secara bersamaan dan terjadi secara tiba-tiba. Usia 30-an bukan alasan untuk merasa kebal terhadap penyakit jantung. Justru, periode usia produktif dapat menjadi waktu yang tepat untuk mulai mengenali faktor risiko dan membangun kebiasaan sehat jangka panjang.
Mulai dari langkah sederhana kenali kondisi tubuh, lakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala, dan jangan abaikan gejala yang tidak biasa. Informasi mengenai layanan pemeriksaan dan kesehatan juga dapat diperoleh melalui Laboratorium Medis CITO, aplikasi Beranda CITO, serta WhatsApp Channel CITO untuk mendapatkan informasi kesehatan, layanan pemeriksaan, dan promo yang sedang berlangsung.
Innovation for Happiness
REFERENSI
- Centers for Disease Control and Prevention. (2024). About Heart Attack Symptoms, Risk, and Recovery. CDC.
- Centers for Disease Control and Prevention. (2024). Heart Disease Risk Factors. CDC.
- Centers for Disease Control and Prevention. (2024). Managing High Blood Pressure. CDC.
- Centers for Disease Control and Prevention. (2026). Preventing Heart Disease. CDC.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Serangan Jantung pada Usia Muda: Memangnya Bisa? Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Kenali Gejala Jantung Sejak Dini.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2025). Serangan Jantung di Usia Muda.
- World Health Organization. (2024). Nearly 1.8 billion adults at risk of disease from not doing enough physical activity. WHO.
- World Health Organization. (2025). Cardiovascular diseases (CVDs). WHO.
Recent Comments