Gondongan kerap dipersepsikan sebagai pembengkakan biasa di area pipi atau rahang yang akan pulih dengan sendirinya. Persepsi ini membuat gondongan sering diremehkan, padahal infeksi ini menyimpan risiko komplikasi yang berdampak jangka panjang, terutama pada usia produktif. Di tengah gaya hidup aktif generasi milenial hingga Gen Z, pemahaman yang tepat mengenai gondongan menjadi krusial agar produktivitas dan kualitas hidup tetap on track.

Apa Itu Gondogan?

Gondongan merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus mumps dari kelompok paramyxovirus. Infeksi ini menyerang kelenjar parotis, yaitu kelenjar ludah utama yang terletak di depan dan bawah telinga. Penularan gondongan terjadi melalui droplet pernapasan, seperti percikan batuk, bersin, atau kontak dekat dengan penderita.

Gejala Gondongan Tidak Hanya Bengkak

Pembengkakan pada pipi atau rahang memang menjadi tanda paling ikonik dari gondongan. Namun sebelum gejala tersebut muncul, sering kali terdapat fase prodromal yang kurang disadari, seperti demam ringan hingga sedang, sakit kepala, nyeri otot, kelelahan, dan penurunan nafsu makan. Pada sebagian kasus, gondongan bahkan dapat terjadi tanpa pembengkakan yang jelas, sehingga risiko penularan tetap tinggi tanpa disadari. Fakta ini menegaskan bahwa gondongan bukan sekadar isu visual, melainkan kondisi infeksi sistemik.

Komplikasi Gondongan yang Jarang Disadari

Salah satu insight penting yang belum banyak diketahui adalah potensi komplikasi gondongan pada usia remaja dan dewasa muda. Menurut Centers for Disease Control and Prevention, gondongan dapat menyebabkan peradangan testis pada laki-laki pascapubertas, yang dalam kasus tertentu berdampak pada gangguan kesuburan. Pada perempuan, gondongan dapat memicu ooforitis atau peradangan ovarium. Selain itu, komplikasi lain seperti meningitis aseptik, ensefalitis, hingga gangguan pendengaran permanen juga telah dilaporkan, meskipun relatif jarang. Risiko komplikasi ini cenderung lebih tinggi pada individu yang tidak memiliki kekebalan optimal.

Peran Imunisasi dan Imunitas Populasi

Imunisasi MMR (measles, mumps, rubella) merupakan strategi paling efektif dalam pencegahan gondongan. Namun, tren penurunan kekebalan seiring waktu atau waning immunity membuat kasus gondongan masih dapat terjadi pada kelompok usia dewasa muda yang sebelumnya telah menerima vaksin. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia melalui Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menekankan pentingnya surveilans penyakit menular dan kewaspadaan terhadap gejala gondongan, terutama di lingkungan dengan interaksi sosial tinggi seperti tempat kerja, kampus, dan ruang publik.

Gondongan di Era Mobilitas Tinggi

Mobilitas tinggi, pola kerja hybrid, serta aktivitas sosial yang intens membuat risiko penularan gondongan menjadi semakin relevan. Gondongan bukan hanya isu kesehatan individu, tetapi juga berdampak pada keberlanjutan aktivitas profesional dan sosial. Deteksi dini melalui pemeriksaan medis yang tepat menjadi langkah strategis untuk memutus rantai penularan dan meminimalkan downtime kesehatan.

Pemeriksaan Laboratorium sebagai Langkah Pencegahan

Gondongan bukan sekadar pembengkakan pada pipi, melainkan infeksi virus dengan potensi komplikasi serius jika tidak ditangani secara tepat. Pemahaman berbasis fakta, pencegahan melalui imunisasi, serta deteksi dini melalui pemeriksaan laboratorium menjadi kunci pengendalian gondongan di era modern. Lakukan pemeriksaaan melalui Laboratorium Medis CITO. Untuk layananan konsultasi online, akses Beranda CITO. Follow WhatssApp Channel CITO untuk mendapatkan informasi terbaru mengenai promo, pemeriksaan kesehatan, hingga edukasi kesehatan terbaru.