Pernah merasa malam terasa panjang padahal tubuh lelah? Kesehatan mental yang terganggu bisa jadi penyebabnya. Menurut World Health Organization (WHO, 2023), sekitar 1 dari 4 orang dewasa mengalami gangguan tidur akibat stres, kecemasan, atau depresi. Pikiran yang terus berputar seperti roda tak berhenti membuat otak sulit beristirahat.
Stres kronis mengaktifkan hormon kortisol yang seharusnya menurun saat malam hari. Ketika kadar kortisol tetap tinggi, tubuh seolah disuruh “siaga” padahal waktunya tidur. Akibatnya, kualitas tidur menurun, dan pagi hari terasa seperti belum benar-benar istirahat.
Hubungan Erat Antara Tidur dan Suasana Hati
Tidur bukan sekadar istirahat, melainkan proses pemulihan emosional. Ketika tidur terganggu, sistem limbik otak — pusat pengatur emosi menjadi tidak seimbang. Penelitian Kemenkes RI (2022) menunjukkan bahwa orang dengan insomnia berisiko 2 kali lebih tinggi mengalami perubahan suasana hati drastis, termasuk mudah marah, cemas, atau sedih tanpa sebab.
Kurang tidur juga menurunkan kadar serotonin, hormon “bahagia” yang berperan penting menjaga stabilitas emosi. Inilah alasan mengapa seseorang yang sering begadang cenderung lebih sensitif dan cepat stres.
Gaya Hidup dan Pola Makan Ikut Terpengaruh
Kesehatan mental yang buruk tak hanya membuat tidur berantakan, tapi juga bisa memengaruhi pola makan. Beberapa orang makan berlebihan untuk menenangkan diri (emotional eating), sementara yang lain justru kehilangan nafsu makan.
Menurut laporan WHO (2024), gangguan makan seperti binge eating disorder dan anoreksia nervosa meningkat hingga 15% di kalangan usia produktif, terutama akibat tekanan psikologis dan gaya hidup sedentari. Ketidakseimbangan pola makan ini memperparah kondisi fisik dan mental seseorang, menciptakan lingkaran yang sulit diputus.
Tips Menjaga Keseimbangan Mental dan Tidur
Agar keseimbangan tubuh dan pikiran tetap terjaga, coba beberapa langkah sederhana berikut:
-
Tetapkan rutinitas tidur — Tidur dan bangun di jam yang sama setiap hari membantu mengatur ritme sirkadian tubuh.
-
Kurangi paparan layar sebelum tidur — Cahaya biru dari gadget menghambat produksi melatonin, hormon pengantar tidur.
-
Berolahraga ringan — Aktivitas fisik membantu mengurangi stres dan meningkatkan kualitas tidur.
-
Latih mindfulness atau meditasi — Menenangkan pikiran sebelum tidur dapat membantu tubuh lebih rileks.
-
Konsumsi makanan bergizi seimbang — Pilih makanan kaya omega-3, magnesium, dan vitamin B kompleks untuk menjaga keseimbangan emosi.
Lab CITO Dukung Kesehatan Mental dan Fisik Anda
Kesehatan mental, tidur, dan pola makan saling berkaitan erat seperti tiga tali yang menahan keseimbangan hidup. Menjaga ketiganya berarti menjaga kualitas hidup secara keseluruhan. Lab CITO berkomitmen mendukung masyarakat Indonesia untuk hidup lebih sehat baik secara fisik maupun mental melalui edukasi dan kampanye gaya hidup sehat.
Innovation For Happiness
REFRENSI
-
World Health Organization. (2023). Mental health and sleep: global health estimates. Geneva: WHO Press.
-
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2022). Laporan Riset Kesehatan Dasar Nasional. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan.
-
World Health Organization. (2024). Global report on eating disorders. Geneva: WHO Press.

Recent Comments