ilustrasi 10 Langkah Efektif Mencegah Kanker Payudara. Gen Z Wajib Tahu

Kanker payudara sering dianggap sebagai penyakit yang hanya perlu diwaspadai ketika usia bertambah. Padahal, memahami faktor risiko dan mengenali perubahan payudara sejak muda merupakan bagian penting dari upaya menjaga kesehatan jangka panjang. Gaya hidup sehari-hari memang tidak dapat menghilangkan seluruh risiko kanker, tetapi sejumlah kebiasaan dapat membantu menurunkannya.

Menurut WHO Tahun 2026 menjelaskan bahwa sekitar 80% kasus kanker payudara terjadi pada perempuan tanpa faktor risiko spesifik selain jenis kelamin dan usia. Artinya, tidak adanya riwayat kanker dalam keluarga bukan jaminan seseorang terbebas dari penyakit ini.

Lantas, apa saja langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah kanker payudara sejak usia muda? Berikut panduan yang perlu diketahui oleh Gen Z dan generasi milenial.

Mengapa Gen Z Perlu Memahami Risiko Kanker Payudara Sejak Dini?

Kanker payudara terjadi ketika sel-sel di jaringan payudara tumbuh secara tidak terkendali dan dapat menyebar ke bagian tubuh lain. Risiko penyakit ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk usia, riwayat keluarga, perubahan genetik yang diwariskan, aktivitas fisik, berat badan, dan konsumsi alkohol. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat CDC Tahun 2024 menjelaskan bahwa sebagian besar kanker payudara ditemukan pada perempuan berusia 50 tahun ke atas. Namun, usia muda tidak membuat seseorang sepenuhnya bebas dari risiko.

Oleh karena itu, upaya mencegah kanker payudara perlu dimulai melalui kebiasaan sehat, pemahaman riwayat kesehatan keluarga, dan kewaspadaan terhadap perubahan pada payudara.

10 Langkah Efektif Mencegah Kanker Payudara

1. Menjaga Berat Badan Tetap Sehat

Menjaga berat badan dalam rentang sehat merupakan salah satu langkah untuk membantu menurunkan risiko kanker payudara, terutama setelah menopause. Kelebihan berat badan setelah menopause berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit ini. Pola makan seimbang dan aktivitas fisik teratur dapat membantu menjaga berat badan sekaligus mendukung kesehatan metabolisme. Hindari diet ekstrem atau penggunaan produk pelangsing tanpa indikasi dan pengawasan tenaga kesehatan.

2. Rutin Melakukan Aktivitas Fisik

Kebiasaan duduk terlalu lama saat bekerja, belajar, atau menggunakan gawai dapat mengurangi waktu untuk bergerak. Padahal, aktivitas fisik merupakan salah satu langkah yang direkomendasikan CDC Tahun 2024 untuk membantu menurunkan risiko kanker payudara. Aktivitas sederhana seperti berjalan kaki, bersepeda, menari, atau berolahraga secara teratur dapat menjadi pilihan. Konsistensi lebih penting daripada memaksakan latihan berat yang sulit dipertahankan.

3. Memperhatikan Kualitas Makanan

Pola makan seimbang membantu menjaga berat badan dan kesehatan tubuh secara keseluruhan. Biasakan mengonsumsi sayuran, buah-buahan, biji-bijian utuh, serta sumber protein yang beragam sesuai kebutuhan. Perlu dipahami bahwa tidak ada satu jenis makanan yang terbukti dapat menjamin pencegahan kanker payudara. Fokus utama adalah membangun pola makan yang sehat dan berkelanjutan, bukan mengandalkan makanan tertentu atau menghindari seluruh kelompok makanan tanpa alasan medis.

4. Mengindari Alkohol

Konsumsi alkohol merupakan salah satu faktor yang dapat meningkatkan risiko kanker payudara. CDC Tahun 2024 menjelaskan bahwa risiko dapat meningkat bahkan pada konsumsi alkohol dalam jumlah relatif rendah. Karena itu, menghindari alkohol merupakan pilihan yang dapat membantu mengurangi risiko. Kebiasaan ini juga mendukung upaya menjaga kesehatan tubuh dalam jangka panjang.

5. Menghindari Asap Rokok

Rokok tidak hanya berdampak pada paru-paru dan jantung, tetapi juga berkaitan dengan berbagai jenis kanker. CDC menyebutkan bahwa penelitian menunjukkan merokok mungkin turut meningkatkan risiko kanker payudara, meskipun hubungan tersebut tidak sesederhana beberapa faktor risiko lainnya. Menghindari rokok dan asap rokok merupakan langkah penting untuk menjaga kesehatan. Lingkungan bebas asap rokok juga membantu melindungi orang-orang di sekitar dari dampak paparan tembakau.

6. Mengetahui Riwayat Kanker Keluarga

Riwayat kanker payudara atau kanker ovarium dalam keluarga dapat menjadi petunjuk penting untuk menilai risiko. Risiko dapat lebih tinggi apabila ibu, saudara perempuan, atau anak perempuan pernah mengalami kanker payudara, terutama pada usia muda. Perubahan genetik yang diwariskan, seperti pada gen BRCA1 dan BRCA2, juga dapat meningkatkan risiko kanker payudara. Jika terdapat riwayat kanker yang kuat dalam keluarga, konsultasi dengan dokter dapat membantu menentukan apakah penilaian risiko atau konseling genetik diperlukan.

7. Memahami Penggunaan Obat Hormonal

Beberapa jenis terapi hormon, terutama terapi pengganti hormon menopause yang mengandung estrogen dan progesteron, dapat meningkatkan risiko kanker payudara. Risiko juga dapat dipengaruhi oleh jenis kontrasepsi hormonal dan kondisi individu. Hal ini bukan berarti seluruh kontrasepsi hormonal harus dihindari. Penggunaan obat atau kontrasepsi sebaiknya didiskusikan bersama tenaga kesehatan agar manfaat, risiko, dan pilihan yang tersedia dapat dipertimbangkan secara tepat.

8. Melakukan Cek Kesehatan Rutin

Pemeriksaan payudara sendiri membantu mengenali bentuk, ukuran, dan kondisi payudara sehingga perubahan yang tidak biasa dapat diketahui lebih cepat. Pemeriksaan ini bukan metode untuk mencegah kanker secara langsung dan tidak dapat memastikan apakah suatu benjolan bersifat jinak atau ganas. Kementerian Kesehatan RI pada 2022 menganjurkan pemeriksaan SADARI secara berkala. Bagi perempuan yang masih menstruasi, pemeriksaan dapat dilakukan pada hari ke-7 hingga ke-10 sejak hari pertama menstruasi, ketika payudara umumnya lebih tidak sensitif. Bagi yang sudah menopause, pemeriksaan dapat dilakukan pada tanggal yang sama setiap bulan. Perhatikan benjolan baru, perubahan bentuk atau ukuran payudara, kulit yang berlesung, perubahan puting, maupun cairan yang tidak biasa. Jika ditemukan perubahan, segera konsultasikan kepada tenaga kesehatan tanpa menunggu pemeriksaan mandiri berikutnya.

9. Tidak Menunda Pemeriksaan Medis Ketika Ada Gejala

Tidak semua benjolan pada payudara merupakan kanker. Namun, benjolan yang tidak nyeri tetap perlu diperiksa karena kanker payudara pada tahap awal dapat tidak menimbulkan rasa sakit. Segera kunjungi fasilitas kesehatan apabila terdapat benjolan baru, perubahan kulit atau puting, perubahan bentuk payudara, maupun cairan berdarah dari puting. Dokter akan menentukan pemeriksaan lanjutan berdasarkan gejala dan kondisi masing-masing. Pemeriksaan klinis oleh tenaga kesehatan, yang dikenal sebagai SADANIS, berbeda dari SADARI karena dilakukan untuk menilai kondisi payudara secara profesional. Deteksi dan penanganan yang lebih awal dapat membantu meningkatkan peluang keberhasilan pengobatan.

10. Menyesuaikan Deteksi Dini dengan Faktor Risiko

Tidak semua orang membutuhkan pemeriksaan skrining yang sama pada usia yang sama. Usia, riwayat kesehatan pribadi, riwayat kanker dalam keluarga, serta faktor risiko tertentu perlu menjadi pertimbangan dalam menentukan pemeriksaan yang sesuai. WHO menjelaskan bahwa skrining mamografi umumnya ditujukan kepada kelompok usia tertentu, sedangkan pemeriksaan diagnostik diperlukan ketika terdapat gejala atau kelainan yang harus dievaluasi. Karena itu, jangan menunggu usia tertentu apabila sudah ditemukan perubahan pada payudara. Konsultasikan kebutuhan pemeriksaan kepada tenaga kesehatan agar jenis dan waktu pemeriksaan sesuai dengan kondisi masing-masing. Langkah ini membantu menghindari pemeriksaan yang tidak diperlukan sekaligus mencegah keterlambatan evaluasi gejala.

Tanda Kanker Payudara yang Tidak Boleh Diabaikan

Selain menerapkan kebiasaan sehat untuk mencegah kanker payudara, mengenali tanda-tanda awal juga penting. Menurut WHO (2026), perubahan yang perlu diwaspadai meliputi:

  • Benjolan atau penebalan baru pada payudara, meskipun tidak terasa nyeri.
  • Perubahan ukuran atau bentuk payudara yang tidak biasa.
  • Kulit payudara berlesung, kemerahan, atau mengalami perubahan tekstur.
  • Perubahan bentuk puting atau kulit di sekitarnya.
  • Cairan tidak biasa dari puting, terutama jika bercampur darah.

Gejala tersebut tidak selalu menandakan kanker. Namun, pemeriksaan medis diperlukan untuk mengetahui penyebabnya. Jangan menunda konsultasi hanya karena benjolan tidak terasa sakit atau usia masih muda.

Mulai Peduli Sebelum Ada Keluhan

Mencegah kanker payudara bukan hanya tentang mengubah pola hidup, melainkan juga membangun kesadaran untuk mengenali kondisi tubuh dan melakukan pemeriksaan ketika diperlukan. Kebiasaan sehat yang dimulai sejak muda dapat menjadi investasi kesehatan untuk masa depan. Laboratorium Medis CITO mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap kesehatan melalui pemeriksaan yang sesuai dengan kebutuhan dan rekomendasi tenaga kesehatan. Informasi mengenai layanan pemeriksaan dapat diperoleh dengan mengunjungi laboratorium medis CITO terdekat.

Untuk akses yang lebih praktis, manfaatkan aplikasi Beranda CITO untuk melihat informasi layanan, melakukan reservasi, mengakses hasil pemeriksaan, serta memperoleh informasi konsultasi dan promosi yang tersedia. Ikuti juga WhatsApp Channel CITO untuk mendapatkan pembaruan informasi kesehatan, layanan pemeriksaan, dan promo terbaru. Mari mulai dari langkah sederhana seperti kenali faktor risiko, terapkan pola hidup sehat, dan jangan menunda pemeriksaan ketika ada perubahan pada payudara. CITO Sahabat Sehat, bersama menjaga kesehatan sejak dini.

 

Innovation For Happiness

REFERENSI
  • Centers for Disease Control and Prevention. (2024). Reducing Risk for Breast Cancer.
  • Centers for Disease Control and Prevention. (2024). Breast Cancer Risk Factors.
  • Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2022). Cegah Kanker Payudara dengan SADARI dan SADANIS.
  • World Health Organization. (2026). Breast Cancer.