Kolagen sering disebut sebagai protein awet muda karena berperan menjaga kekuatan kulit, tulang, sendi, otot, hingga pembuluh darah. Tidak sedikit orang mengandalkan suplemen kolagen dengan harapan kulit menjadi lebih sehat atau proses penuaan dapat diperlambat. Namun, terdapat satu fakta yang masih jarang diketahui, yaitu kolagen tidak bisa bekerja sendiri..

Banyak orang yang sudah rajin minum kolagen, tetapi hasilnya kurang maksimal. Ternyata tubuh membutuhkan vitamin C yang berfungsi membantu pembentukan dan menjaga kualitas kolagen. Tanpa dukungan nutrisi tersebut, kolagen yang dikonsumsi tidak dapat dimanfaatkan secara maksimal. Fakta inilah yang membuat banyak orang merasa telah rutin mengonsumsi kolagen, tetapi hasilnya belum sesuai harapan.

Kolagen Tidak Bisa Bekerja Sendiri, Mengapa?

Kolagen merupakan protein struktural terbesar dalam tubuh manusia yang menyusun sekitar 30% dari total protein tubuh. Protein ini menjadi komponen utama kulit, tendon, ligamen, tulang, hingga dinding pembuluh darah. Namun, tubuh tidak menyerap kolagen dalam bentuk utuh. Setelah dikonsumsi, kolagen akan dipecah menjadi asam amino dan peptida kecil sebelum digunakan kembali untuk membangun jaringan tubuh. Artinya, pembentukan kolagen baru bergantung pada proses metabolisme yang kompleks serta ketersediaan berbagai zat gizi pendukung.

Menurut World Health Organization (WHO, 2024), pola makan seimbang yang kaya protein, vitamin, dan mineral merupakan fondasi utama dalam menjaga kesehatan jaringan tubuh, termasuk proses regenerasi protein struktural seperti kolagen.

Kolagen Membutuhkan Vitamin C

Inilah fakta yang sering terlewat. Kolagen tidak bisa bekerja sendiri karena membutuhkan vitamin C sebagai kofaktor utama dalam pembentukan serat kolagen.

Vitamin C berperan dalam proses hidroksilasi asam amino prolin dan lisin. Tanpa proses ini, struktur kolagen menjadi lemah dan tidak stabil. Kondisi kekurangan vitamin C bahkan dapat menyebabkan gangguan pembentukan kolagen yang berdampak pada penyembuhan luka lebih lambat, gusi mudah berdarah, hingga kulit menjadi rapuh.

Centers for Disease Control and Prevention (CDC, 2024) juga menjelaskan bahwa kecukupan vitamin dan mineral dari pola makan beragam berperan penting dalam menjaga fungsi jaringan tubuh secara optimal.

Protein Berkualitas Menentukan Hasilnya

Banyak orang hanya fokus mencari suplemen kolagen, padahal tubuh tetap membutuhkan protein dari makanan sehari-hari. Asam amino seperti glisin, prolin, dan hidroksiprolin merupakan bahan baku utama pembentukan kolagen. Sumber protein berkualitas dapat diperoleh dari:

  • Ikan
  • Telur
  • Daging tanpa lemak
  • Susu
  • Tempe
  • Tahu
  • Kacang-kacangan

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (2023) melalui Pedoman Isi Piringku juga menekankan pentingnya konsumsi lauk berprotein sebagai bagian dari pola makan bergizi seimbang untuk mendukung pembentukan dan perbaikan jaringan tubuh.

Gaya Hidup Juga Menentukan Efektivitas Kolagen

Fakta menarik lainnya adalah kolagen tidak bisa bekerja sendiri karena kualitas gaya hidup sangat memengaruhi kecepatannya rusak.

Beberapa kebiasaan yang dapat mempercepat kerusakan kolagen antara lain:

  • Merokok.
  • Paparan sinar ultraviolet berlebihan.
  • Konsumsi gula berlebihan yang memicu proses glikasi sehingga serat kolagen menjadi kaku.
  • Kurang tidur.
  • Stres berkepanjangan.

WHO (2023) menjelaskan bahwa penggunaan tembakau dan paparan faktor risiko gaya hidup dapat mempercepat berbagai proses kerusakan jaringan tubuh.

Pemeriksaan Kesehatan Membantu Mengetahui Kondisi Tubuh

Kulit kusam, luka yang sulit sembuh, atau tubuh yang mudah lelah tidak selalu disebabkan oleh kurangnya kolagen. Dalam beberapa kasus, kondisi tersebut dapat berkaitan dengan kekurangan zat besi, gangguan nutrisi, penyakit metabolik, hingga kondisi kesehatan lainnya. Pemeriksaan laboratorium secara berkala membantu memberikan gambaran kondisi kesehatan secara menyeluruh sehingga kebutuhan nutrisi maupun penanganan dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing individu.

Laboratorium Medis CITO menyediakan berbagai layanan pemeriksaan kesehatan yang dapat dimanfaatkan sebagai langkah deteksi dini. Informasi mengenai layanan laboratorium, promo kesehatan, reservasi pemeriksaan, hingga akses hasil laboratorium juga tersedia melalui aplikasi Beranda CITO. Informasi kesehatan terbaru dan berbagai promo menarik dapat diikuti melalui WhatsApp Channel resmi CITO sehingga informasi terpercaya dapat diperoleh dengan lebih mudah.

 

Innovation for Happiness

REFERENSI
  • Centers for Disease Control and Prevention. (2024). Nutrition Basics. Atlanta: CDC.
  • Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). Isi Piringku. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.
  • World Health Organization. (2023). Tobacco. Geneva: World Health Organization.
  • World Health Organization. (2024). Healthy Diet. Geneva: World Health Organization.
  • World Health Organization. (2024). Micronutrients. Geneva: World Health Organization.